Portal Berita Online
Tak hanya menjadi daerah lintasan Khatulistiwa atau Equator, ternyata Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau ini juga memiliki berbagai destinasi wisata menarik. Bahkan, wisata berkelas dunia pun ada di daerah yang dipimpin Bupati H Zukri Misran dan Wakil Bupati H Nasaruddin,SH MH ini.
‘’Buat wisatawan yang ingin tahu tentang Kampung Bono, Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Kabupaten yang memiliki wisata eksotik yang luar biasa. Ada gelombang Bono. Gelombang yang terjadi di Sungai. Biasa kita menemukan gelombang besar itu cuma di laut, sekarang gelombang itu terjadi di sungai dengan gelombang yang cukup tinggi, di waktu-waktu tertentu dan ini menjadi wisata yang sangat menarik,’’ungkap Bupati Pelalawan H Zukri Misran pada event Bekudo Bono, Ahad, pekan kedua Nopember 2022 lalu.
‘’Jadi bagi peselancar ini sangat seru sekali,’’kata Zukri. Keseruan Bekudo Bono terbukti dengan hadirnya peselancar dunia dari beberapa negara, seperti Italia, Brazil, Australia,Malaysia dan lainnya termasuk peselancar handal Indonesia.
Bahkan Gubernur Riau Drs H Syamsuar,M.Si juga mengungkapkan kekagumannya terhadap Bono saat menghadiri pembukaan Festival Bekudo Bono bersama Bupati Pelalawan H Zukri Misran, Wakil Bupati H Nasaruddin,SH,MH, Kadis Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan Dodi Asma Saputra,S.STP serta sejumlah pejabat Riau lainnya.
‘’Berada di sebuah helat bernama Festival Bono Surfing, sebuah perayaan yang menghadirkan keunikan, daya tarik dan eksotika. Jika,biasanya orang berselancar di ombak samudera, maka hal ini berbeda, yakni berselancar meniti gulungan ombak sungai, ombak bono terdapat di sungai Kampar. Ombak seperti ini hanya ada dua di dunia, yakni di Sungai Amazon, Brazil dan Sungai Kampar Teluk Meranti, Pelalawan. Sejumlah peselancar kawakan dari nasional dan mancanegara hadir mencoba Dengan kesan sedemikian luar biasa,’’kata Gubernur Syamsuar.
Gubri juga berharap dalam mengembangkan objek wisata Bono di aliran Sungai Kampar ini adanya perhatian dan bantuan pemerintah pusat. ‘’Kami berharap diperlukan juga kerja sama dari pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR dan Kementerian Pariwisata dalam mengembangkan objek wisata ini. Sehingga bono semakin dikenal didunia internasional dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,’’ucapnya berharap.
Hal ini tentunya terkait dengan infrastruktur seperti pembangunan jalan menuju lokasi wisata Bono serta berbagai fasiltas pendukung lainnya.
Dari berbagai referensi, Bono atau bena (Tidal Bore) adalah gelombang atau ombak yang terjadi di muara sungai seperti di Sungai Kampar Kabupaten Pelalawan. Ombak Bono merupakan suatu fenomena alam akibat adanya pertemuan arus sungai menuju laut dan arus laut yang masuk ke sungai akibat pasang.
Biasanya ombak atau gelombang hanya terjadi di tepi pantai atau laut ataupun danau yang luas akibat perubahan arus air dan angin. Ombak yang berukuran cukup besar banyak dimanfaatkan untuk bermain selancar.
Bono terbesar biasanya terjadi ketika musim penghujan dimana debit air Sungai Kampar cukup besar yaitu sekitar bulan November dan Desember.
Penyebab
Gelombang Bono atau Ombak Bono (Bono Wave) yang merupakan suatu fenomena alam, secara sederhana dapat disampaikan bahwa terjadinya Ombak Bono adalah pertemuan arus pasang air laut dengan arus sungai dari hulu menuju muara (hilir). Di dalam kajian Lingkungan Bono disebut tidal bore atau bore/aegir/eagre/eygre. Secara ilmiah, gelombang bono merupakan salah satu peristiwa alam yang cukup langka dan jarang terjadi. Di mana kita akan menyaksikan sebuah gelombang besar yang layaknya terjadi di tengah laut, namun ini terjadi di sebuah sungai air tawar. Gelombang bono terjadi diakibatkan benturan tiga arus air yang berasal dari Selat Malaka, Laut Cina Selatan dan aliran air Sungai Kampar. Akibat benturan ini, menjadikan gelombang air di muara sungai Kampar bisa mencapai ketinggian 4-5 meter dengan ditandai sebelumnya dengan suara gemuruh yang hebat. Ini merupakan fenomena ilmiah yang akan dipercayai oleh kaum intelektual saja.
Penyebab Terjadinya Ombak Bono
Ombak Bono atau kadang biasa juga disebut Gelombang Bono (Bono Wave) terjadi ketika saat terjadinya pasang (pasang naik) yang terjadi di laut memasuki Sungai Kampar. Kecepatan air Sungai Kampar menuju arah laut berbenturan dengan arus air laut yang memasuki Sungai Kampar. Benturan kedua arus itulah yang menyebabkan gelombang atau ombak tersebut. Bono akan terjadi hanya ketika air laut pasang. Dan akan menjadi lebih besar lagi jika pada saat air laut mengalami pasang besar (bulan besar) diiringi hujan deras di hulu Sungai Kampar. Derasnya arus sungai akibat hujan akan berbenturan dengan derasnya pasang air laut yang masuk ke Kuala Kampar.
Faktor Penyebab Timbulnya Ombak Bono: Aliran air sungai menuju muara, Hujan, Air pasang, Posisi bulan, Tinggi rendah kedalaman air dan Lingkungan hutan sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS)
Legenda
Bono ini sebenarnya terdapat di dua lokasi di Provinsi Riau yaitu di Muara (Kuala) Sungai Kampar Kabupaten Pelalawan dan di Muara (Kuala) masyarakat setempat menyebut Bono di Kuala Kampar sebagai Bono Jantan karena lebih besar, sedangkan Bono di Kuala Rokan sebagai Bono Betina karena lebih kecil.
Menurut kepercayaan warga, gelombang bono yang ada di Sungai Kampar adalah Bono Jantan, sementara bono betinanya berada di daerah Sungai Rokan, dekat dengan Kota Bagansiapi-api. Bono di Kuala Kampar tersebut berjumlah tujuh ekor, dimana bentuknya serupa kuda yang biasa disebut dengan induk Bono. Pada musim pasang mati, bono ini akan pergi ke Sungai Rokan untuk menemui bono betina. Kemudian bersantai menuju ke selat Malaka. Itulah sebabnya ketika bulan kecil dan pasang mati, bono tidak ditemukan di kedua sungai tersebut. Jika bulan mulai besar, kembalilah bono ketempat masing-masing, lalu main memudiki Sungai Kampar dan Sungai Rokan. Semakin penuh bulan di langit, semakin gembira bono berpacu memudiki kedua sungai itu.
Muara Sungai Bono yang disebut penduduk sebagai Kuala Kampar memiliki ombak Bono yang dapat mencapai ketinggian 6-10 meter tergantung keadaan pada saat kejadian. Menurut cerita Melayu lama berjudul Sentadu Gunung Laut, setiap pendekar Melayu pesisir harus dapat menaklukkan ombak Bono untuk meningkatkan keahlian bertarung mereka. Hal ini dapat masuk akal karena "mengendarai" Bono intinya adalah menjaga keseimbangan badan, di luar masalah mistis.
Dahulu, karena masih ada sifat mistis di lokasi tersebut, maka untuk mengendarai Bono harus dengan upacara "semah" yang dilakukan pagi atau siang hari. Upacara dipimpin oleh Bomo atau Datuk atau tetua kampung dengan maksud agar pengendara Bono selalu mendapat keselamatan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Selain itu ada cerita mistis (mungkin) yang berhubungan dengan gelombang Bono ini yaitu cerita tentang Banjir Darah di Mempusun atau Mempusun Bersimbah Darah dan terbentuknya Kerajaan Pelalawan 1822 Masehi.
Sekarang, masyarakat sekitar Kuala Kampar menganggap Bono sebagai "sahabat alam". Penduduk yang berani akan "mengendarai" Bono dengan sampan mereka tidak dengan menggunakan papan selancar pada umumnya. Mengendarai sampan di atas ombak Bono menjadi suatu kegiatan ketangkasan. Tetapi kegiatan ini memiliki risiko tinggi karena ketika salah mengendarai sampan, maka sampan akan dapat dihempas oleh ombak Bono, tak jarang yang sampannya hancur berkeping-keping.
Ombak Tujuh Hantu
Masyarakat sekitar memiliki cerita-cerita dongeng yang istimewa terkait dengan adanya gelombang bono tersebut. Ada banyak cerita dan kepercayaan dari masyarakat lokal yang menjadikan peristiwa alam yang langka tersebut kian istimewa. Menurut cerita masyarakat Melayu lama, ombak Bono terjadi karena perwujudan 7 (tujuh) hantu (Seven Ghost) yang sering menghancurkan sampan maupun kapal yang melintasi Kuala Kampar. Ombak besar ini sangat menakutkan bagi masyarakat sehingga untuk melewatinya harus diadakan upacara semah seperti yang telah disebutkan di atas. Ombak ini sangat mematikan ketika sampan atau kapal berhadapan dengannya. Tak jarang sampan hancur berkeping-keping di hantam ombak tersebut atau hancur karena menghantam tebing sungai. Tak sedikit kapal yang diputar balik dan tenggelam akibanya.
Menurut cerita masyarakat, dahulunya gulungan ombak ini berjumlah 7 (tujuh) ombak besar dari 7 hantu. Ketika pada masa penjajahan Belanda, kapal-kapal transportasi Belanda sangat mengalami kesulitan untuk memasuki Kuala Kampar akibat ombak ini. Salah seorang komandan pasukan Belanda memerintahkan untuk menembak dengan meriam ombak besar tersebut. Entah karena kebetulan atau karena hal lain, salah satu ombak besar yang kena tembak meriam Belanda tidak pernah muncul lagi sampai sekarang. Maka sekarang ini hanya terdapat 6 (enam) gulungan besar gelombang ombak Bono.
Tujuh Hantu adalah 7 ombak Bono dengan formasi 1 di depan dan diikuti dengan 6 gelombang di belakangnya. Karena 1 ombak terbesar telah dihancurkan Belanda sehingga ombak Bono besar hanya tersisa 6 ombak dengan formasi hampir sejajar memasuki Kuala Kampar. Mengenai kapal Belanda dan orang-orangnya tidak pernah diketemukan sampai sekarang.
Lokasi
Terletak di posisi 0.08.39,29 lintang Utara dan 102.33.48,50 bujur timur. Ombak Bono Sungai Kampar biasanya akan membesar dan bisa dijadikan untuk kegiatan berselancar di lokasi sekitar Pulau Muda, ataupun di Muara Sungai Serkap menuju ke Kelurahan Teluk Meranti.
Wisata
Bagi penyuka Fotografi dapat memotret bangunan rumah panggung yang sangat khas melayu dan pemandangan alam yang masih sangat indah dan alami. Selain itu, dapat memancing sambil menikmati pemandangan yang sangat menakjubkan. Bercengkerama dengan penduduk lokal pun bisa menjadi sebuah hal menarik yang bisa dilakukan. Melihat dan menyaksikan aktivitas para nelayan, khususnya pada pagi hari menjadi sebuah pengalaman yang sangat humanis dan tak terlupakan. Jangan lupa untuk menyaksikan pagelaran seni yang biasanya digelar di gedung serbaguna yang ada di sana. Masyarakat dan penduduk lokal memang terkenal sangat ramah. Menikmati aneka pertunjukan seni seperti Pencak Silat dan permainan alat musik seperti Kendang dan kompang akan menjadi sarana untuk melepas kepenatan.
Untuk sampai ke lokasi Wisata Bono di Kampung Bono Kelurahan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan, saat ini sudah bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Meski, beberapa titik akses Jalan Lintas Bono belum semuanya mulus. Namun, sudah bisa dicapai beberapa jam dari ibu kota Kabupaten Pelalawan, Pangkalan Kerinci.
Untuk penginapan sendiri di lokasi Kampung Bono sudah tersedia penginapan, rumah makan dan lainnya.adv


‘’Dengan wisata pantai Ogisnya, dengan Sungai Kerumutan dan wisata Perkampungan yang keren habis ,karena Kampong Bono Teluk Meranti menjadi salah satu kampong wisata di Indonesia. Ayo datang ke Kampung Wisata Bono Kabupaten Pelalawan,’’sambung Zukri mengajak masyaakat Indonesia dan dunia untuk datang ke Kabupaten Pelalawan dengan beragama wisata yang ditawarkan. Salah satunya Kampung Bono dengan gelombang Bono bagi yang hobi olahraga pemicu adrenalin ini.
Memang lanjut Bupati, untuk melihat eksotisnya dan amazing Bono dengan legenda Bono Seven Ghost di Kelurahan Teluk Meranti Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, harus datang langsung ke lokasinya.




riaupotenza.com adalah Situs berita riau, media online yang melayani informasi dan berita dengan mengutamakan kecepatan serta kedalaman informasi. Portal berita disini selalu update, dan secara kreatif mengubungkan teks, foto, video dan suara dan kami fokus pada pembaca di Indonesia dan Riau khususnya, baik yang berada di tanah air maupun yang tinggal di luar negeri
Selengkapnya
| Alamat | : | Jl. KH Ahmad Dahlan No.14 C Sukajadi Pekanbaru Riau |
| Phone | : | 081275844407 |
| Fax | : | 0761 (0000) |
| : | riaupotenza@gmail.com |